SILAHKAN DIBACA BRADER semoga bermanfaat buat temen - temen

Pendidikan Instan




Kecenderungan serba instan dalam memperoleh ilmu pengetahuan, dari hari ke hari semakin kuat. Dalam memperoleh ilmu pengetahuan, seorang serjana yang sangat cepat memperoleh gelar sarjana S1 atau S2 tanpa melalui proses semester berjalan. Mereka hanya membayar semua ketertinggalan semester lalu didaftarkan masuk menjadi peserta ikut wisuda dan langsung saja mendapatkan ijazah. Pelajar/mahasiswa hari ini ingin ‘sekali seduh langsung jadi’ siap disantap, layaknya makanan instan. Padahal kenyataannya, ilmu pengetahuan tidak seperti makanan instan yang cukup diseduh langsung dinikmati.
Seorang sarjana instan akan memunculkan kecemburuan sosial dan memunculkan ketidakpercayaan terhadap lembaga pendidikan yang mengeluarkan ijazah tersebut. Sarjana yang sudah berproses mati-matian selama pendidikan berlangsung, mengikuti semester berjalan, melaksanakan kewajiban di kampus seperti membayar SPP, mengerjakan tugas-tugas. Sementara ada orang yang tiba-tiba mendapat gelar serjana namun selama pergaulan sosialnya tidak pernah terdengar kabar bahwa dia pernah kuliah. Tentu masyarakat mempertanyakan dari mana gelar itu didapatkan.
Hasil kerja keras akan menghasilkan kepuasan tersendiri. Mengutip dari pernyataan Gus Dur, ”Saya tidak menilai berapa indeks prestasi seorang sarjana yang didapatkan dari kampus tapi saya menilai sebesar apa proses perjuangan dalam memperoleh nilai tersebut.” Selain dari pada itu Mahatma Gandi mengatakan bahwa “kepuasan terletak pada usaha, bukan pada hasil , berusaha dengan keras adalah kemenangan yang hakiki.”
Proses Instan
Terkadang kita hanya menunggu sesuatu yang untuk suatu kejutan yang datang dari langit. Belajar di institusi pendidikan formal itu, sebetulnya merupakan proses untuk mendapatkan pengetahuan, pendewasaan diri, pematangan pribadi, berkomunikasi, berorganisasi, dan membangun relasi dengan sesama, agar menjadi pribadi yang dewasa, berwawasan luas, berjiwa matang, tidak ‘kuper,’ punya prinsip hidup yang kuat, memiliki integritas yang tinggi dan tidak plin-plan. Pada hakikatnya bahwa proses pendidikan mengajarkan diri menjadi seseorang yang rasional, objektif, dan sistematis agar memiliki kerangka pikir yang fundamental dan dapat dijadikan sebagai referensi dalam setiap problematika sosial yang terjadi di sekeliling.
Maka dari itu didalam kampus bukan hanya diajarkan tentang displin ilmu sesuai jurusan masing-masing namun, juga diajarkan dengan moral, etika pergaulan dan nilai-nilai karakter dalam bermasyarakat. Bagaimanapun, pengetahuan yang sempit sama berbahayanya dengan pengetahuan tanpa karakter. Pengetahuan intelektual yang tinggi tanpa diimbangi nilai-nilai karakter diibaratkan seorang pemuda memegang sebilah pedang sementara dalam keadaan mabuk. Maka seorang sarjana yang hanya langsung menerima ijazah tentu akan kewalahan dalam menghadapi tantangan sosial apalagi mempertanggung jawabkan nilai akademiknya. Aktualisasi terhadap nilai-nilai akademik tercermin dari seorang sarjana yang betul-betul melewati sistem pendidikan yang baik, bukan sarjana kampungan, seperti Tarzan masuk kota, tetapi dia dapat menjadi agen of change di tengah arus problematika yang ada.
Maraknya Plagiat
Keengganan untuk melakukan sesuai jalannya sistem akademik, tidak jarang di antara para calon sarjana meng-copi-paste skripsi (plagiat) yang suda jadi, atau bahkan menggunakan biro jasa pembuatan skripsi, atau tesis. Karena bagi mereka yang diutamakan memang bukan pengetahuan melainkan status, ijazah, atau gelar. Agar bisa diakui eksistensinya di masyarakat kalau dia itu punya title akademik.
Menjamurnya institusi yang menawarkan gelar hanya dengan harga Rp 5 sampai 8 juta, ini tidak terlepas dari berfikir instan, padahal yang demikian itu merupakan suatu pelanggaran sistem dan pengkhianatan terhadap prinsip akademik. Membuat tesis sering dipandang calon serjana sebagai suatu yang amat berat, sehingga timbul rasa enggan untuk melaksanakan bahkan memulainya. Maka jalan pintas adalah “plagiat.” Memang, menyusun suatu karangan ilmiyah bukanlah pekerjaan yang mudah. Apa saja yang dikemukakan dalam skripsi, tesis, harus dapat dipertanggugjawabkan berdasarkan data empiris. Namun keharusan itulah yang sangat berharga bagi seorang yang nantinya menyebut dirinya seorang sarjana.
Bagi sarjana harus dapat berpikir ilmiah objektif dan rasional. Ia harus mampu d membiasakan dirinya bersikap ilmiah. Membuat tesis memaksa calon sarjana untuk melakukan penelitian secara ilmiah dan dengan demikian merupakan latihan yang sangat bermanfaat bagi persiapan sebagai seorang ilmuwan. Dan sikap seperti itu telah dipupuk dalam perkuliahan, maka skiripsi, tesis merupakan bukti tentang sikap, cara berfikir dan menghasilkan karya ilmiah.
Sebaliknya cara ‘potong kompas’ atau proses yang serba instan yang diterapkan dalam sebuah institusi sekolah dan perguruan tinggi tidak akan pernah menghasilkan generasi bangsa yang kompeten dan kreatif tetapi hanya akan menghasilkan produk-produk pragmatis.
Berikut ini ada beberapa sistem yang sering diterapkan di kampus-kampus di antaranya: pertama proses pembelajaran dalam semester pendek. Sistem semester pendek itu, pasti tergesa-gesa karena waktu yang singkat harus menghabiskan bahan banyak. Akibatnya dosen pun memberikan secara serampangan sedangkan mahasiswa pun menerimanya juga sepintas lalu tanpa pengendapan.
Kedua Program semester panjang. Karena waktu pertemuannya selalu mengalami jeda, memungkinkan mahasiswa yang rajin untuk membaca ulang memahami materi yang diajarkan mengunyah, merenungkan, dan merefleksikan dalam kehidupan sehari-hari tetapi dalam semester pendek apa yang diterima mahasiswa dari dosen tidak sempat diserap, dikunyah, direnungkan, apalagi direfleksikan, tetapi langsung ditelan begitu saja ujian. Persis seperti orang menelan obat: agar tidak pahit, obat itu ditelan dengan air minum atau buah-buahan untuk memanipulasi rasa pahitnya.
Menelan itu berbeda dengan mengunyah yang memiliki ritme dan unsur rasa, memerlukan proses kesabaran dan waktu sampai 32 kali (pesan dokter) sedangkan ketika menelan akan terasa nguntal. Sekali barang dilempar ke mulut, langsung ditelan.
Penulis masih teringat waktu kecil dulu saat belajar mengaji, sebelum memulai pelajaran mengaji diharuskan agar setiap santri terlebih dahulu mengangkat air dari sumur ke rumah guru ngaji tersebut, satu orang santri satu jergen berukuran 5 liter air, kalau yang kelas 5-6 SD diharuskan membawa 2 buah jerigen dengan ukuran yang sama diangkat dengan terseok-seok. Jarak dari sumur dengan rumah guru ngaji sekitar 100 M. Setelah semua santri mengangkat air selanjutnya mengambil sapu lidi untuk menyapu, ada yang menyapu di bawah kolong rumah, ada juga yang menyapu lantai atas sampai bersih. Tidak berhenti sampai di situ, selanjutnya kami diarahkan ke dapur untuk mencuci piring. Setelah semuanya beres barulah mulai membuka Al Qur’an untuk dibaca. Dan dibaca berkali-kali sekitar 5-8 kali yang disebut Mandarras (istilah Mandar) barulah datang guru ngaji didepan kita untuk mengajar sambil membawa sebuah rotan kecil yang berukuran panjang kira-kira 60 CM. Satu kali melakukan kesalahan rotan tersebut meluncur kearah bagian paha atau tangan. Begitulah proses panjang terus menerus berjalan sampai masa Khatam bacaan Al-Qur’an.
CPNS Berijasah palsu
Maraknya CPNS yang berijazah palsu belakangan ini, marupakan suatu fanomena pendidikan yang memilukan dan memalukan. Kita tidak bisa bayangkan suatu perguruan tinggi ternama di Indonesia Timur bisa-bisanya mengeluarkan ijazah palsu. Seperti yang terjadi pekan lalu UNM berhasil mengidentifikasi setidaknya 11 CPNS yang berijasah palsu. Institusi yang dulunya dikenal sebagai penghasil guru terbaik ini komplain lembaga mereka digunakan sebagai alat untuk mendupliksi ijazah lalu, dimanfaatkan untuk mendaftar CPNS.
Anehnya bahwa yang menggunakan ijazah palsu ini di BKD masing-masing telah dinyatakan lulus. (Fajar 28 Des 2014). Kalau yang orang berijazah palsu menjadi abdi negara dalam suatu instansi, maka dikhawatirkan akan menjadi orang tidak bertanggung jawab dan cenderung korup karena ijazah yang digunakan dalam mendaftar PNS berasal dari proses yang tidak benar. Yakinlah bahwa segala sesuatu yang berasal dari yang tidak benar pasti akan berakhir degan tidak benar pula.
Kita berharap pemerintah betul-betul dapat menyeleksi CPNS dengan penuh hati-hati, agar proses ijasah palsu tidak lagi terulang dalam proses penelimaan CNPS berikutnya. Aparat hukum sekiranya dapat menindak tegas sesuai perundang-undangan yang berlaku.   bagi siapa yang kedapatan menggunakan ijasah palsu.
Herman Haerudin
               http://hmikomfakda.blogspot.co.id
 

PPM: Jadikan Pengalaman KKN Sebagai Bekal Pengabdian

Rektor Prof Dr Dede Rosyada MA saat melepas peserta KKN-PpMM 2015 UIN Jakarta 
 
Pengalaman mengabdikan diri kepada masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata-Pengabdian kepada Masyarakat oleh Mahasiswa (KKN-PpMM) 2015 sebagai bekal saat mereka lulus dan mengabdikan diri kepada lingkungan seutuhnya. Tahun ini, 2.500 mahasiswa telah berhasil menyelesaikan KKN-PpMM dalam berbagai skema pengabdian.
Demikian disampaikan Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) UIN Jakarta Jaka Badranaya ME kepada BERITA UIN Online, Jumat (04/09). Menurutnya, substansi program pengabdian yang diterapkan kampus adalah media pendidikan bagi mahasiswa agar bisa berinteraksi antar individu dalam kelompok, dengan masyarakat, bahkan interaksi dengan masalah yang ada di masyarakat.
“Apa yang mereka lakukan, (yakni, Red.) interaksi dengan tiga subjek tersebut, kita harapkan bisa mereka ambil sebagai modal ketika mereka kembali kepada masyarakat setelah menyelesaikan bangku kuliah,” ujar Jaka.
Diketahui, 2.500 mahasiswa UIN Jakarta telah menyelesaikan program pengabdian melalui KKN-PpMM. Kegiatan yang berlangsung penuh selama satu bulan ini menawarkan pengabdian pada tiga skema utama, yakni KKN-PpMM Reguler untuk 2.474 mahasiswa, KKN-PpMM in Campus 11 orang, dan KKN-PpMM Kebangsaan 15 orang.
MS Nasution, Staf PPM menambahkan, kegiatan KKN-PpMM Reguler tahun ini dilakukan di 100 desa/kelurahan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dan 60 desa/kelurahan Kabupaten Tangerang, Banten. Sesuai jumlah desa/kelurahan, ke-2.474 mahasiswa peserta terbagi dalam 160 kelompok pengabdian.
Sementara peserta KKN-PpMM Kebangsaan mengabdikan diri di wilayah Provinsi Riau. Mereka melakukan pengabdian masyarakat bersama peserta KKN dari 20 Perguruan Tinggi Negeri Regional Barat. Adapun KKN-PpMM in Campus diikuti mahasiswa dengan melaksanakan tugas-tugas pengabdian di kampus.
Ditambahkan Syarif, seluruh mahasiswa kelompok peserta KKN diharapkan segera menyelesaikan draft laporan tentang profil dan kegiatan pengabdian masing-masing. Rencananya, draft laporan akan disunting dan dibukukan.
Nantinya, buku laporan didaftarkan ke Perpustakaan Nasional untuk mendapatkan ISBN. Selanjutnya, buku tersebut didistribusikan ke Perpustakaan Nasional, Pusat Perpustakaan, Desa, PPM, dan pembimbing. “Kita targetkan akhir Oktober seluruh buku sudah siap distribusi,” harapnya.

Sumber :  http://uinjkt.ac.id

DEMA FIDKOM Proudly Present : Syiar Khatulistiwa , Islam Nusantara


Pengumuman guys tanggal 10 september 2015 DEMA FIDKOM akan mengadakan acara diskusi lesehan loh temanya : " Islam Nusantara " acaranya ringan dan mengasyikan loh dimeriahkan juga oleh musikalisasi puisi dan stand up comedy. Acaranya bertempat di taman dakwah tanggal 10 september 2015 ayooo jangan samapai gak dateng yah hiburannya dapet ilmunya juga dapet kok

Dekan FDIKOM Bicara Program Studi Berlabel Dakwah

Hasil gambar untuk arief subhan maBanyak orang berpikir bahwa dakwah selalu identik dengan kegiatan ceramah atau tabligh, dengan para jama’ah yang duduk menyimak. Padahal secara umum, dakwah dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu melalui lisan seperti ceramah, melalui perbuatan seperti mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan melalui tulisan di media-media tertentu. UIN Jakarta menjawab semua persoalan tersebut di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM). Dibantu dengan kajian ilmu komunikasi, dakwah pun menjadi sebuah ilmu yang juga dipelajari di beberapa perguruan tinggi di Indonesia.
Dekan FDIKOM, Dr. H. Arief Subhan, M.A., menjelaskan, aspek komunikasi sangat penting dalam menyampaikan pesan kepada orang lain. Dalam berkomunikasi, menyampaikan pesan bisa secara tidak langsung, seperti penyampaian pesan melalui media koran, televisi, atau radio. Ada yang hanya menyampaikan pesan melalui lisan, sehingga diwujudkan dalam program studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI). Adapula yang menyampaikan pesan melalui tulisan, yang diterapkan dalam konsentrasi  Jurnalistik.
FDIKOM juga memiliki jurusan Manajemen Dakwah (MD), yang dimaksudkan sebagai bentuk perhatian UIN Jakarta terhadap lemahnya manajemen lembaga-lembaga dan aktivitas dakwah di Indonesia. FDIKOM juga membuka jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), dan Kesejahteraan Sosial (Kessos), yang didasarkan pada keinginan untuk mengembangkan dakwah melalui perbuatan, yaitu dakwah yang terlibat dalam kegiatan masyarakat. Adapula jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI), yang akan menyelesaikan permasalahan masyarakat melalui penyuluhan dan konseling.

Meski Banyak yang Sakit, Puncak OPAK FDIKOM Tetap Dinilai Asyik

 Mahasiswa Baru (maba) Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) mengikuti acara puncak Orientasi Pengenalan Akademik dan Kemahasiswaan (OPAK), Jumat (28/8/2015) di gedung Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Kegiatan OPAK yang berlangsung lima hari ini, ditutup dengan pemaparan budaya akademik, kode etik ke-prodian serta penampilan demo LSO dan komunitas.

Menurut Rini Desyawati selaku salah satu mahasiswa baru jurusan KPI, penutupan OPAK sangat asyik dan seru. Panitia OPAK selalu memberikan semangat karena melihat maba tampak lelah. Panitia pun dinilai sukses karena bisa menghidupkan suasana OPAK. "Salut sama kakak senior yang pada semangat, meski lelah menghadapi anak maba," kata Rini.

Penutupan OPAK sebenarnya bisa lebih seru, jika tidak ada yang sakit. Kejadian beberapa maba yang jatuh sakit, menyebabkan acara harus dipercepat dari jadwalnya. Rini pun menambahkan, para peserta OPAK seharusnya menyiapkan dan membawa obat yang dibutuhkan. “Hal ini diperlukan agar memanfaatkan waktu dan momen OPAK semaksimal mungkin,” katanya.

Selain itu, Mutiara Lestari Putri selaku panitia OPAK, memberikan komentarnya terhadap beberapa maba yang jatuh sakit. Menurutnya beberapa maba yang jatuh sakit hanya mengalami kelelahan. “Mahasiswa baru hanya lelah dan sebenarnya jadwal sama padatnya dengan tahun kemarin,” ujarnya.

Di sisi lain, Musfiah Saidah selaku Badan Pengawas Opak (BANWASPAK) juga menanggapi hal tersebut. Ada dua kemungkinan penyebabnya, Bisa jadi jadwal terlalu padat atau maba sakit, tapi tidak lapor atau pun izin untuk tidak ikut acara OPAK. “Padahal mahasiswa baru bisa memberikan surat keterangan dokter karena sakit, mereka berhak tidak mengikuti acara OPAK,” pungkas Musfiah. 

MOHON MAAF LAHIR BATIN





Segenap keluarga besar Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi mengucapkan mohon maaf sebesar - besar nya apabila kami seringkali melakukan kesalahan - kesalahan atau mengecewakan temen - temen sekalian sekali lagi kami mohon maaf sekali yaaa kesalahan hanya milik kami dan kesempurnaan hanya milik Allah SWT semoga di lebaran tahun ini banyak berkah dan ampunan yang tiada terhitung untuk kita semua AMIINNN.

Leadership Nabi Muhammad Saw






224076_10150187788594185_955755_n 













Oleh: Dr. Arief Subhan, MA

Mengawali Kolom Dekan di website Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan topik tentang leadership kiranya sangat tepat. Muslim Indonesia sekarang ini masih dalam suasana perayaaan mawlid Nabi saw. Di Indonesia mawlid Nabi telah menjadi libur nasional. Masyarakat merayakannya dengan  membaca syair-syair yang berisi biografi Nabi saw., dan keteladanan yang dicontohkannya—disebut dengan teks  Barzanzi. Namun karena berbaur dengan tradisi, seringkali peringatan mawlid hanya berbentuk perayaan belaka. Nilai keteladanan yang terkandung di dalamnya kurang mendapatkan penghayatan.

Sesungguhnya substansi peringatan mawlid adalah menghadirkan kembali sosok penuh keteladanan itu dengan membacakan biografinya. Muslim tentu saja diminta membuka hati dan pikirannya untuk belajar. Ini sejalan dengan firman yang menegaskan bahwa  “sungguh pada diri pribadi Rasulullah terdapat uswah hasanah (Q.S. al-Ahzab, 33: 21). Tetapi memang uswah hasanah itu, yang secara harfiah berarti “keteladanan yang baik”, hanya akan diberikan kepada mereka yang selalu menaruh harapan besar kepada Allah swt., mempercayai hari akhir, dan selalu berdizikir menyebut namaNya.
Bagi masyarakat  Muslim, Nabi Muhammad saw merupakan referensi utama dalam menjalani kehidupan. Salah satu keteladanan itu—bahkan mungkin yang utama—terdapat pada perilaku leadership (kepemimpinan) yang diperlihatkan sepanjang hayatnya. Tentu saja Nabi saw merupakan pemimpin yang berhasil dan berpengaruh. Montgomery Watt menyebutkan bahwa Nabi saw tidak hanya berhasil sebagai pemimpin agama, tetapi juga pemimpin politik. Tidak berlebihan jika Micheal H. Heart, misalnya—untuk menyebut hanya satu contoh—memposisikan Muhammad saw sebagai “tokoh paling berpengaruh di dunia”.

Nabi saw., sendiri menganggap leadership sebagai misi penting umat manusia.  Diceritakan bahwa Nabi saw pernah berpesan: “kamu sekalian adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinanmu”. Pada dasarnya, setiap Muslim adalah pemimpin. Yang membedakan pastilah hanya satu: cakupan luas kepemimpinannya. Mulai dari pemimpin untuk diri sendiri sampai dengan pemimpin negara. Termasuk di dalamnya adalah pemimpin perguruan tinggi. Masing-masing memiliki tanggung jawab sesuai dengan tingkatannya. Pemimpin diri sendiri terkesan paling sempit luas cakupan tanggung jawabnya. Akan tetapi, pemimpin diri sendiri justru paling berat dari segi beban. Ini merujuk kepada pesan Nabi saw terhadap para sahabat yang kembali dari kemenangan Perang Badr. Kata Nabi saw., “kalian kembali dari jihad kecil dan akan menghadapi jihab besar, yaitu jihad melawan hawa nafsu”. Tentu saja yang dimaksud adalah jihad melawan diri sendiri yang merupakan fundamen utama dalam leadership.

Dalam konteks teori leadership modern, keteladanan kepemimpinan Nabi saw barangkali dapat dikelompokkan sebagai “strategic leadership”. Stephen Robbins, Rolf Bergman, Ian Stagg, Mary Coulter, Management (Australia: Pearson Australia,  2012: 341) menguraikan strategic leadership sebagai “the ability to anticipate, envision, maintain flexibility, think strategically and work with others in the organization to initiate changes that will create a viable and valuable future for the organization”.  Semua kriteria yang disebutkan tampaknya terdapat di dalam pola kepemimpinan yang dibangun Nabi swa., meskipun jelas bahwa kaum Muslim tidak pernah membuat rumusan seperti itu.

Kriteria pertama, “the ability to anticipate”, merupakan kapasitas pemimpin yang jeli mengantisipasi perubahan eksternal yang terjadi, tetapi juga menaruh perhatian terhadap dinamika internal. Pesan tentang nilai-nilai yang dipraktikkan Nabi saw dalam traktat-traktat perjanjian dengan pihak lain, kesediaan untuk berunding, dan menghargai partisipasi stakeholder—misalnya dalam kisah legendaris solusi yang diambil Nabi ketika mengangkat Hajar Aswad ke tempatnya semula dengan menggunakan kain. Dengan mempergunakan kain persegi empat, maka setiap stakeholder terwakili.  Setiap keputusan Nabi saw mengandung nilai yang bersifat antisipatif terhadap perkembangan baru.
Kriteria kedua, “envision”, merupakan kualitas pemimpin yang memiliki visi dan menguasai langkah-langkah yang harus ditempuh di dalam meraih visi tersebut dalam time-line yang sistematik. Sampai dengan turunnya ayat yang mendeklarasikan kesempurnaan Islam sebagai agama, seluruh kegiatan Nabi saw merupakan langkah-langkah strategis. Baik itu dalam menyebarluaskan ajaran Islam maupun dalam proses pembentukan kesadaran sebagai anggota masyarakat Muslim (ummah wahidah). Envision Nabi saw itulah yang menyebabkan ia menolak keras tawaran kaum kafir. Dikisahkan bahwa Nabi saw sampai berkata, “andai rembulan itu kau berikan padaku, aku tidak akan berhenti menjalankan—dalam bahasa sekarang—visi dan misi kenabianku”.
Berkaitan dengan kriteria ketiga, “flexibility”, yang merupakan kualitas pemimpin yang adaptatif terhadap lingkungan, tidak kaku dalam berkomunikasi dan berperilaku, maka pasti kualitas ini dapat ditemukan keteladanannya dalam diri Nabi saw. Diceritakan oleh Abdullah ibn Umar ra.: “ada seseorang menghadap Rasulullah saw., meminta ijin untuk berjihad (perang). Beliau menjawab, apakah kedua orang tuamu masih hidup? Ia menjawab: Ya. Nabi saw berkata, “kalau begitu berjihadlah untuk kedua orang tuamu”. Versi lain menyebutkan bahwa Nabi saw meminta agar orang tersebut meminta ijin kedua orang tuanya sebelum berjihad (Ibn Hajar al-Asqalani, Bulughul Maram, hadis No. 1299/1300).

Kriteria berikutnya, “strategic changes” dan “work with others”, terlihat dalam keteladanan Nabi saw dalam membagun basis ikatan baru bagi kaum Muslim yang didasarkan kepada iman dan rasa persaudaraan. Sebelumnya, masyarakat Arab membangun solidaritas berdasarkan kesukuan (tribalism). Dengan perubahan basis solidaritas ini, masyarakat Muslim Arab menjadi komunitas yang kuat dalam ekspansi-ekspansi futuhat yang dilakukan sehingga Islam merupakan agama yang mengalami penyebaran paling cepat dibandingkan dengan Abrahamic Religions lain.  Berkaitan dengan “work with others”, maka keteladanan paling jelas adalah perjanjian-perjanjian yang dilakukan Nabi saw dengan Abrahamic Religions lain. “Piagam Madinah” merupakan bukti paling tak terbantahkan. Kualitas-kualitas kepemimpinan Nabi saw., itulah yang harus terus digali dan diteladani, tidak hanya oleh para pemimpin Muslim, tetapi juga seluruh Muslim yang terikat dalam ikatan ummah wahidah.  Dan peringatan mawlid merupakan tonggak untuk selalu mengingat dan kembali kepada keteladanan Nabi saw.

Sumber :  fidkom.uinjkt.ac.id

Kisah Marbot Masjid Atta’awun Cisarua Puncak Bogor

Cerita ini nyata yang mengisahkan dua sahabat yg terpisah cukup lama; Ahmad dan Zaenal. Ahmad ini pintar sekali. Cerdas. Tapi dikisahkan kurang beruntung secara ekonomi. Sedangkan Zaenal adalah sahabat yg biasa2 saja. Namun keadaan orang tuanya mendukung karir dan masa depan Zaenal.
Setelah terpisah cukup lama, keduanya bertemu. Bertemu di tempat yg istimewa; di koridor wudhu, koridor toilet sebuah masjid megah dengan arsitektur yg cantik, yg memiliki view pegunungan dengan kebun teh yg terhampar hijau di bawahnya. Mesjid tersebut adalah mesjid At-Ta’awun yang berada di puncak Bogor.
Adalah Zaenal, sudah menjelma menjadi seorang manager kelas menengah. Necis. Parlente. Tapi tetap menjaga kesalehannya.
Ia punya kebiasaan. Setiap keluar kota, ia sempatkan singgah di masjid di kota yg ia singgahi. Untuk memperbaharui wudhu, dan sujud syukur. Syukur-syukur masih dapat waktu yg diperbolehkan shalat sunnah, maka ia shalat sunnah juga sebagai tambahan.
Seperti biasa, ia tiba di Puncak Pas, Bogor. Ia mencari masjid. Ia pinggirkan mobilnya, dan bergegas masuk ke masjid yg ia temukan.
Di sanalah ia menemukan Ahmad. Cukup terperangah Zaenal ini. Ia tahu sahabatnya ini meski berasal dari keluarga tak punya, tapi pintarnya minta ampun.
Zaenal tidak menyangka bila berpuluh tahun kemudian ia menemukan Ahmad sebagai merbot masjid..!
“Maaf,” katanya menegor sang merbot. “Kamu Ahmad kan? Ahmad kawan SMP saya dulu?”.
Yang ditegor tidak kalah mengenali. Lalu keduanya berpelukan, Ahmad berucap
“Keren sekali Kamu ya Mas… Manteb…”. Zaenal terlihat masih dlm keadaan memakai dasi. Lengan yg digulungnya untuk persiapan wudhu, menyebabkan jam bermerknya terlihat oleh Ahmad. “Ah, biasa saja…”.
Zaenal menaruh iba. Ahmad dilihatnya sedang memegang kain pel. Khas merbot sekali. Celana digulung, dan peci didongakkan sehingga jidatnya yg lebar terlihat jelas.
“Mad… Ini kartu nama saya…”.
Ahmad melihat. “Manager Area…”. Wuah, bener-bener keren.”
“Mad, nanti habis saya shalat, kita ngobrol ya. Maaf, kalau kamu berminat, di kantor saya ada pekerjaan yang lebih baik dari sekedar merbot di masjid ini. Maaf…”.
Ahmad tersenyum. Ia mengangguk. “Terima kasih ya… Nanti kita ngobrol. Selesaikan saja dulu shalatnya. Saya pun menyelesaikan pekerjaan bersih2 dulu… Silahkan ya. Yang nyaman”.
Sambil wudhu, Zaenal tidak habis pikir. Mengapa Ahmad yg pintar, kemudian harus terlempar darik kehidupan normal. Ya, meskipun tidak ada yang salah dengan pekerjaan sebagai merbot, tapi merbot… ah, pikirannya tidak mampu membenarkan.
Zaenal menyesalkan kondisi negerinya ini yg tidak berpihak kepada orang-orang yang sebenarnya memiliki talenta dan kecerdasan, namun miskin.
Air wudhu membasahi wajahnya…
Sekali lagi Zaenal melewati Ahmad yang sedang bersih-bersih. Andai saja Ahmad mengerjakan pekerjaannya ini di perkantoran, maka sebutannya bukan merbot. Melainkan “office boy”.
Tanpa sadar, ada yang shalat di belakang Zaenal. Sama-sama shalat sunnah sepertinya.
Setelah menyelesaikan shalatnya Zaenal sempat melirik. “Barangkali ini kawannya Ahmad…”, gumamnya.
Zaenal menyelesaikan doanya secara singkat. Ia ingin segera bicara dengan Ahmad.
“Pak,” tiba2 anak muda yg shalat di belakangnya menegur.
“Iya Mas..?”
“Pak, Bapak kenal emangnya sama bapak Insinyur Haji Ahmad…?”
“Insinyur Haji Ahmad…?”
“Ya, insinyur Haji Ahmad…”
“Insinyur Haji Ahmad yang mana…?”
“Itu, yang barusan ngobrol sama Bapak…”
“Oh… Ahmad… Iya. Kenal. Kawan saya dulu di SMP. Emangnya udah haji dia?”
“Dari dulu udah haji Pak. Dari sebelum beliau bangun ini masjid…”.
Kalimat itu begitu datar. Tapi cukup menampar hatinya Zaenal… Dari dulu sudah haji… Dari sebelum beliau bangun masjid ini…
Anak muda ini kemudian menambahkan, “Beliau orang hebat Pak. Tawadhu’. Saya lah yg merbot asli masjid ini. Saya karyawannya beliau. Beliau yang bangun masjid ini Pak. Di atas tanah wakafnya sendiri. Beliau biayai sendiri pembangunan masjid indah ini, sebagai masjid transit mereka yg mau shalat. Bapak lihat hotel indah di sebelah sana? … Itu semua milik beliau… Tapi beliau lebih suka menghabiskan waktunya di sini. Bahkan salah satu kesukaannya, aneh. Yaitu senangnya menggantikan posisi saya. Karena suara saya bagus, kadang saya disuruh mengaji saja dan azan…”.
Zaenal tertegun, entah apa yang ada di hati dan di pikiran Zaenal saat itu
*****
Ada pelajaran dari kisah pertemuan Zaenal dan Ahmad. Jika Ahmad itu adalah kita, mungkin begitu bertemu kawan lama yang sedang melihat kita membersihkan toilet, segera kita beritahu posisi kita yang sebenarnya.
Dan jika kemudian kawan lama kita ini menyangka kita merbot masjid, maka kita akan menyangkal dan kemudian menjelaskan secara detail begini dan begitu. Sehingga tahulah kawan kita bahwa kita inilah pewakaf dan yang membangun masjid ini.
Tapi kita bukan Haji Ahmad. Dan Haji Ahmad bukannya kita. Semoga ia selamat dari rusaknya nilai amal, sebab ia tetap tenang dan tidak risih dengan penilaian manusia. Haji Ahmad merasa tidak perlu menjelaskan apa-apa. Dan kemudian Allah yg memberitahu siapa dia sebenarnya…
“Al mukhlishu, man yaktumu hasanaatihi kamaa yaktumu sayyi-aatihi” Orang yang ikhlas itu adalah orang yang menyembunyikan kebaikan-kebaikannya, seperti ia menyembunyikan keburukan-keburukan dirinya.[Ya’qub YahimaHullah, dalam kitab Tazkiyatun Nafs] 
sumber: fb Farisi Rakhman
http://detikkemenit.blogspot.com

Kenangan BAKSOS FIDKOM 2015



Acara perdana DEMA FIDKOM UIN JAKARTA periode 2014-2015 yang diadakan di Kp.Soreang,Desa Dano, Kec.Leles, Garut, Jawa Barat tgl 7 - 22 feb 2015

Mengenal Munir dan Pemikirannya



Munir Said Thalib adalah seorang aktivis kemanusiaan yang sangat aktif memperjuangkan hak-hak orang tertindas. Selama hidupnya, Ia selalu berkomitmen membela siapa saja yang haknya terzalimi. Munir dan sosok humanisnya terlihat ketika ia mendapatkan hadiah ratusan juta rupiah sebagai penerima "The Right Livelyhood Award,". Lalu, Munir tak segan membagikan seluruh hadiahnya kepada Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) dan ibunda tercinta.
Salah satu sosok yang dikenal di dunia Internasional ini, lahir di Malang, Jawa Timur pada 8 Desember 1965 dan wafat pada 7 September 2004. Munir melanjutkan studi masternya di bidang hukum di program studi master (S2) di Universitas Utrecht. Munir melakukan penerbangan dari Jakarta ke Amsterdam, Belanda. Saat transit di Singapura, ia wafat karena mengonsumsi makanan yang terkontaminasi racun arsenik.
Namun sangat disayangkan, sampai saat ini kasus kematian Munir menyisakan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Kasus ini pun menjadi salah satu agenda pada masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Saat itu, presiden SBY telah menyatakan bahwa kasus kematian Munir merupakan “a test of our history”. Untuk mengungkap kasus kematian Munir, presiden pun menyatakan bahwa semua pihak yang terlibat dalam kasus Munir harus diproses secara hukum.
Proses hukum yang tidak kunjung selesai ini, membuat banyak pihak seperti Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) menaruh perhatian lebih terhadap kasus Munir. Karena kasus Munir ini tampak begitu banyak halang rintangnya, dan terkesan ditutup-tutupi oleh beberapa oknum. Munir adalah sosok yang disenangi oleh masyarakat, namun cukup dibenci beberapa oknum. Karena pemikirannya yang berbeda dari masyarakat umum lainnya.
Penyusunan buku ini adalah sebuah upaya untuk menghadirkan jejak keprihatinan, refleksi, harapan, intensi, semangat, ideologi, cita-cita, opini atau misi yang dinyatakan oleh Munir baik eksplisit maupun implisit secara lebih komprehensif.
Beberapa warisan pemikiran Munir seperti hak perlindungan pekerja, memori sejarah serta politik persahabatan terinspirasi dari pemikiran Walter Benjamin, seorang pemikir teori kritis dalam Mazhab Frankfurt. Pembahasan tentang memori sejarah serta politik persahabatan, mengadopsi dari buah pemikiran Aristoteles dalam Etika Nikomakhea. Warisan pemikiran yang mungkin sebagai penyebab dari kebencian para oknum kepada Munir.
Selain itu, buku ini mencoba untuk mengadakan pembacaan kembali terhadap beberapa gagasan yang berhubungan dengan aktivitas Munir sebagai human rights defender dan human rights thinker, latar belakang keluarga dan tonggak-tonggak kehidupan Munir, gambaran awal bagaimana karakter Munir terbentuk, lalu dalam buku ini juga membicarakan aktivitas Munir dalam dunia perburuhan, yaitu paparan sepak terjang Munir sejak ia bergabung bersama LBH Pos Malang dan LBH Surabaya, aktivisme Munir ketika ia hijrah ke YLBHI Jakarta dan mulai menangani berbagai kasus pelanggaran HAM juga diceritakan disini.
Dalam buku juga tidak lupa diceritakan sedikit romantisme yang terjalin antara Munir dengan sang istri tercinta Suciwati sebelum mereka melangkah ke pelaminan. menelusuri jejak-jejak pemikiran Munir yang tersebar di berbagai makalah atau artikel yang membahas berbagai hal seperti kekerasan Negara, militerisme, impunitas, demokrasi, supemasi sipil, penegakan HAM dan hukum media massa, dan kepemimpinan masa depan.
Buku ini terinspirasi dari empat buku yang mengulas jejak-jejak kehidupan Munir, yaitu Munir, Sebuah Kitab Melawan Lupa, Cak Munir, Engkau Tak Pernah Pergi, Bunuh Munir! Sebuah Buku Putih, dan Membangun Bangsa Menolak Militerisme: Jejak Pemikiran Munir (1965-2004). Hal yang membuat buku ini menarik adalah, kita dapat merasakan secara gamblang dan jelas sosok Munir sebenarnya di sini. Sebagai pemuda kita harus memiliki jiwa seperti Munir yang menjunjung tinggi jiwa keadilan.

Penyusun: Tim Redaksi LP3ES
ISBN: 9789793330723
Jumlah halaman: 187
ukuran: 15.5 x 23 cm
Penerbit: Pustaka LP3ES
Tahun terbit: September 2007


(Melinda Luthfianna)

Sumber : http://www.journoliberta.com/2015/04/mengenal-munir-dan-pemikirannya.html

Catatan Penting di Bulan Ramadhan


 
1. Pada bulan Ramadhan tidak sedikit orang yang membuat berbagai variasi pada menu makanan dan minuman mereka. Walaupun hal itu diperbolehkan, tetapi tidak dibenarkan israf (erlebih-lebihan) dan melampaui batas. Justeru seharusnya adalah menyederhanakan makanan dan minuman. Allah Ta ‘ala berfirman :
“Makan dan minumlah dan janganlah kalian berbuat israf (berlebih-lebihan), sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat israf. ” (Al-A’raaf: 31),
Ayat ini termasuk pangkal ilmu kedokteran. Sebagian salaf berkomentar: “Allah mengklasifikasikan seluruh ilmu kedokteran hanya dalam setengah ayat,” lantas membacakan ayat ini. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/210.)
Ayat ini menganjurkan makan dan minum yang merupakan penopang utama bagi kelangsungan hidup seseorang, kemudian melarang berlebih-lebihan dalam hal tersebut karena dapat membahayakan tubuh. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Makanlah, minumlah, berpakaianlah dan bersedekahlah tanpa disertai dengan berlebih-lebihan dan kesombongan. ” (HR. Abu Daud dan Ahmad, Al-Bukhari meriwayatkannya secara mu’allaq)
Nabi shallallahu halaihi wasallam bersabda lagi :
‘Tiada tempat yang lebih buruk, yang dipenuhi anak Adam daripada perutnya, cukuplah bagi mereka beberapa suap yang dapat menopang tulang punggungnya (penyambung hidupnya) jika hal itu tidak bisa dihindari maka masing-masing sepertiga bagian untuk makanannya, minumnya dan nafasnya. ” (HR. Ahmad, An-Nasaa’i, Ibnu Majah dan At-Tfrmidzi, beliau berkomentar: Hadits ini Hasan, dan hadits ini merupakan dasar utama bagi semua dasar ilmu kedokteran). (Lihat Al Majmu’atul Jalilah, hlm. 452.)
Malik bin Dinar radhiallahu’anhu berkata: “Tidak pantas bagi seorang mukmin menjadikan perutnya sebagai tujuan utama, dan nafsu syahwat mengendalikan dirinya.”
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata: “Jika Anda menghendaki badan sehat dan tidur sedikit, maka makanlah sedikit saja.”
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sungguh, di antara yang paling aku khawatirkan menimpa kamu sekalian adalah nafsu yang menyesatkan dalam perut dan kemaluanmu serta hal-hal yang dapat menyesatkan hawa nafsu. ” (HR.Ahmad).
Ketahuilah, bahwa dampak teringan akibat berlebih-lebihan dalam makan dan minum adalah banyak tidur dan malas melaksanakan shalat tarawih serta membaca Al-Qur’an, baik di waktu malam atau di siang hari. Barangsiapa yang banyak makan dan minumnya, maka akan banyak tidurnya sehingga tidak sedikit kerugian yang menimpanya.
Karena ia telah menyia-nyiakan detik-detik Ramadhan yang mulia dan sangat berharga yang tidak dapat digantikan dengan waktu lain serta tidak ada yang menyamainya. Ketahuilah bahwa waktumu terbatas dan detak nafasmu terkalkulasi rapi, sedangkan dirimu nanti akan dimintai pertanggungjawaban atas waktumu, dan kamu akan diganjar atas perbuatan yang kamu lakukan di dalamnya. Maka janganlah sekali-kali kamu menyia-nyiakannya tanpa amal perbuatan dan jangan kamu biarkan umurmu pergi percuma, terutama pada bulan dan musim yang mulia dan agung ini.
2. Jika diperhatikan, banyak manusia yang menghabiskan siang hari di bulan Ramadhan hanya untuk tidur mendengkur, sementara malamnya mereka habiskan untuk mengobrol dan bermain-main, sehingga mereka tidak merasakan puasa sedikit pun bahkan tidak sedikit yang meninggalkan shalat berjamaah -semoga Allah menunjukinya. Hal ini mengandung bahaya dan kerugian yang sangat besar bagi mereka, karena Ramadhan adalah musim segala ibadah seperti melaksanakan shalat, puasa, membaca Al-Qur’an, dzikir, berdo’a dan mohon ampunan.
Ramadhan merupakan bilangan hari, yang berlalu dengan cepat dan menjadi saksi ketaatan bagi orang-orang yang taat, sekaligus sebagai saksi bagi para tukang maksiat atas semua perbuatan maksiatnya.
Seyogyanya setiap muslim selalu memanfaatkan waktunya dalam hal-hal yang berguna, janganlah memperbanyak makan di malam hari dan tidur di slang hari, jangan pula menyia-nyiakan sedikit pun waktunya tanpa berbuat amal shalih atau mendekatkan diri kepada Tuhannya.
Diriwayatkan dari Hasan Al-Bashri rahimahullah, bahwasanya ia berkata: “Sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikan bulan Ramadhan sebagai saat untuk berlomba-lomba dalam amal kebajikan dan bersaing dalam melakukan amal shalih. Maka satu kaum mendahului lainnya dan mereka menang, sedangkan yang lain terlambat dan mereka pun kecewa.”
Ketahuilah bahwa siang dan malam hari itu merupakan gudang bagi manusia yang sarat dengan simpanan amal baik atau buruknya. Kelak pada hari Kiamat akan dibuka gudang ini untuk (diperlihatkan dan diserahkan kepada) pemiliknya. Orang-orang yang bertakwa akan mendapati simpanan mereka berupa penghargaan dan kemuliaan, sedangkan orang-orang pendosa yang menyia-nyiakan waktunya akan mendapatkan kerugian dan penyesalan.
3. Sebagian orang malah begadang sepanjang malam, yang hal tersebut hanya membawa dampak negatif, baik berupa obrolan kosong, permainan yang tidak ada manfaatnya ataupun keluyuran di jalanan.
Mereka makan sahur di pertengahan malam dan tertidur sehingga tidak melaksanakan shalat Shubuh berjamaah. Dalam hal inl banyak hal-hal yang dilarang, di antaranya adalah:


  1. Begadang tanpa manfaat, padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sangat membenci tidur sebelum shalat Isya’ dan berbicara sesudahnya, kecuali dalam hal-hal yang baik, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Ibnu Mas’ud : “Tidak diperkenankan bercakap-cakap di malam hari kecuali bagi orang yang sedang mengerjakan shalat atau sedang bepergian. ” (HR. Ahmad, As-Suyuti menandainya sebagai hadits hasan).
  2. Tersia-siakannya waktu yang amat mahal di bulan Ramadhan dengan percuma, padahal manusia akan merugi sekali dari setiap waktunya yang berlalu tanpa diisi dengan dzikir sedikit pun kepada Allah.
  3. Mendahulukan sahur sebelum saat yang dianjurkan dan disunnahkan yakni di akhir malam sebelum fajar.
  4. Dan musibah terbesar adalah ia tertidur hingga meninggalkan shalat Shubuh tepat pada waktunya dengan berjamaah, padahal pahalanya sebanding dengan melaksanakan shalat separuh malam bahkan semalam suntuk, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Utsman radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa mendirikan shalat Isya’ dengan berjamaah; maka ia bagaikan melaksanakan shalat separuh malam; dan barangsiapa shalat shubuh berjamaah maka ia bagaikan shalat semalam suntuk. ” (HR. Muslim).
Oleh karena itu, mereka yang selalu mengakhirkan shalat dan bermalas-malasan dalam melaksanakannya serta menghalangi dirinya sendiri dari keutamaan dan pahala shalat berjamaah yang agung berarti memiliki sifat-sifat orang munafik.
Allah Ta ‘ala berfirman :
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka; Dan apabila mereka mendirikan shalat mereka mendirikannya dengan malas.” ( An-Nisaa’: 142).
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya shalat yang terberat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya’ dan Shubuh, jika mereka mengetahui pahalanya, niscaya mereka mendatanginya kendatipun dengan merangkak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Maka sudah selayaknya -terutama di bulan Ramadhan- setiap muslim segera tidur setelah melaksanakan shalat tarawih, dan secepatnya bangun di akhir malam, kemudian shalat malam dan menyibukkan diri dengan dzikir, do’a, istighfar dan taubat sebelum dan seusai sahur hingga shalat fajar.
Tetapi lebih utama lagi jika ia habiskan malam harinya dengan membaca dan mempelajari Al-Qur’an, sebagaimana yang telah dilakukan Nabi shallallahu a’alaihi wasallam bersama Jibril ‘alaihis salam.
Allah Ta’ala memuji dan menyanjung orang-orang yang memohon ampunan di akhir malam, sebagaimana dalam firman-Nya :
“Mereka sedikit sekali ridur di malam hari, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampunan kepada Allah). ” (Adz-Dzaariyaat:17-l8).
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Allah Ta’ala turun ke langit dunia setiap malam sewaktu malam tinggal sepertiga bagian akhir, lantas berfirman, ‘Barangsiapa berdo’a akan Aku kabulkan. Barangsiapa yang memohon pasti Aku perkenankan. Barangsiapa minta ampun niscaya Aku mengampuninya, hingga terbit fajar. ” (HR. Muslim)
Maka sudah sepantasnya bagi setiap muslim yang selalu berharap rahmat Tuhannya dan takut terhadap siksaNya- memanfaatkan kesempatan penting ini, dengan berdo’a dan mohon ampun kepada Allah untuk dirinya, kedua orang tuanya, anak-anaknya, segenap kaum muslimin dan para penguasanya. Memohon ampun dan bertaubat kepada Allah di setiap malam bulan Ramadhan dan di setiap saat dari umurnya yang terbatas sebelum maut menjemput, amal perbuatan terputus dan penyesalan berkepanjangan. Allah Ta’ala berfirman :
“Dan bertaubatlah kalian semua orang-orang yang beuiman supaya kalian beruntung.” (An-Nuur: 31),
Ya Allah terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang.
Semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan ke haribaan Nabi Muhammad, segenap keluarga dan para sahabatnya.

Hitam Putih SOTR



Foto: Google.com

Oleh: Giovanni
Teras KPI – Ramadhan merupakan bulan penuh berkah di mana setiap amalan yang kita perbuat akan dilipat gandakan. Hal ini tentu membuat semua orang turut berlomba-lomba dalam kebaikan. Salah satu cara yang digunakan masyarakat dalam meramaikan ladang amal di bulan Ramadhan ialah dengan kegiatan Sahur on The Road (SOTR).
SOTR merupakan kegiatan sahur di jalan yang biasa dilakukan oleh komunitas, anak sekolah maupun elemen masyarakat lainnya. SOTR identik dengan kegiatan bakti sosial dengan memberikan makanan sahur secara cuma-cuma kepada mereka yang lebih membutuhkan.
Sholahul El Azmi, mahasiswa semester 6, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), menanggapi positif kegiatan ini. Menurutnya selain untuk beramal, SOTR juga dapat menjadi ajang reuni bagi para alumni beberapa sekolah. “Gua SOTR sama temen SMP, ya mau ketemu temen lama aja sih, kebayang kan udah berapa lama gua lulus,” kata Azmi.
Menurutnya tidak hanya sekedar konvoi, kegiatan SOTR nya saat itu juga diikuti dengan makan sahur bersama dengan para pengamen cilik. Mahasiswa jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) itu mengatakan bahwa, jika SOTR dilangsungkan dengan baik, maka kegiatan tersebut akan sangat efektif apabila dijadikan sebagai salah satu ladang amal. “Karena kita turun langsung, ngasih langsung, makan langsung di situ, itu kalo pengalaman gua,” ujarnya kepada Teras KPI.
Berbeda dengan Azmi, Muchamad Santoso mahasiswa semester 4 FDIKOM mengaku bahwa dirinya lebih senang menikmati waktu sahurnya dengan keluarga. Selain itu, menurutnya belakangan ini SOTR justru malah dijadikan sebagai ajang pamer kekayaan dan cenderung menjurus kepada hal yang negatif.
“Terkadang SOTR hanya dijadikan ajang pamer, dan ada juga SOTR yang menjerumus pada tawuran antar komunitas SOTR,” jelas Santos.
Menurutnya, kegiatan SOTR yang mengarah kepada hal tersebut justru akan sia-sia dan hanya akan membuang-buang waktu. Meskipun demikian, Santos juga menyoroti beberapa hal positif dari kegiatan tersebut.
“SOTR sebenarnya bagus apabila diisi dengan kegiatan positif, contohnya dengan memberikan makanan untuk kalangan tidak mampu,” katanya.
Kegiatan SOTR juga menjadi polemik di beberapa Daerah. Salah satunya adalah Pemerintah Kota (Pemkot) Kabupaten Bogor. Seperti dikutip dari Liputan6.com, Rabu (24/6/2015), Walikota Bogor, Bima Arya mengatakan bahwa kegiatan SOTR kini justru lebih mengarah pada tindakan negatif dari pada positif.
“Di Bogor juga melarang sahur on the road. Aktivitas vandalisme itu kalau sahur on the road, kan sekarang diisi geber motor, coret tembok jadi dipastikan enggak boleh di Bogor. Lebih banyak mudaratnya kalau sekarang,” ujar Bima.
*AFR
Sumber : http://teras-kpi.blogspot.com/

Antusias Mahasiwa Melaksanakan Salat Tarawih

Foto: www.google.com

Oleh: Apik Sopan Katanya
Teras KPI - Tarawih adalah ibadah spesial yang hanya dilakukan saat Ramadhan. Tarawih dilakukan setelah salat isya. Salat tarawih dapat dilakukan secara jamaah di masjid maupun mushola, atau dilakukan sendiri di rumah .
Tarawih dilakukan selama H-1 Ramadhan sampai dengan H-1 Idul Fitri. Apabila kita melaksanakan salat tarawih pada hari pertama, maka insyaallah dosa-dosa kita akan diampuni. Inilah yang membuat tarawih menjadi istimewa .
Maka dari itu, umat muslim sangat antusias menyambut Ramadhan dan tidak ingin melewatkan salat yang hanya ada di bulan puasa ini. Tak terkecuali bagi mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Meskipun aktivitas kampus masih berjalan seperti biasanya, bahkan minggu pertama bulan puasa ini bertetapan dengan jadwal UAS mahasiswa. Namun, dapat disaksikan masjid-masjid yang berada di sekitar kampus selalu penuh dengan jamaah yang ingin melaksanakan salat sunah tarawih. Hal ini menunjukkan bahwa antusias dan kesadaran mahasiswa untuk melaksanakan salat tarawih masih tinggi
Salah satu mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) semester 6, Nenden Nelawati mengatakan meskipun dia kost, dan belum pulang ke tempat tinggalnya karena masih ada UAS, dirinya tetap menjalankan ibadah tarawih di masjid yang lokasinya dekat dengan tempat kost. 

Selain itu, Nenden mengatakan bahwa dia merasa senang sekali karena masjid yang biasanya sepi, namun saat Ramadhan selalu penuh dengan jamaah dan dapat bertemu serta berkumpul dengan umat muslim lainnya untuk melaksanakan salat tarawih.

*GF

Sumber : http://teras-kpi.blogspot.com/

Rektor: Takwa dan 5 Indikator Kematangan Emosi


Masjid al-Jamiah, BERITA UIN Online– Mampu menerima kenyataan, menghargai orang lain, menerima tanggung jawab, bersabar/patience, dan memiliki jiwa humor/sense of humor adalah lima indikator kedewasaan dan kematangan emosi seseorang.
Demikian teori lima indikator kematangan emosi Psikolog Perkembangan asal Swiss Jean Piaget (1896-1980) yang dijadikan Rektor UIN Jakarta Prof Dr Dede Rosyada MA sebagai materi Kultum (Kuliah Tujuh Menit) ba’da Zhuhur UIN Jakarta perdana dalam kegiatan Ramadhan in Campus 1436 H/2015 di Masjid al-Jamiah Student Center, Kamis (18/6/2015).
Menurut Dede, banyak orang yang tidak bisa menerima kekalahan yang dialaminya saat bersaing, sehingga ia terus mencari kesalahan berbagai pihak dan tidak mau mengakui kekalahannya.
“Ini termasuk ciri bahwa emosi orang tersebut belum matang dan dewasa,” ujar Dede yang juga berkesempatan menjadi imam shalat Zhuhur.
Indikasi kedua, lanjut Dede, setiap orang memiliki keahlian masing-masing dan tidak ada orang yang unggul di semua bidang. Seseorang yang unggul di satu bidang, belum tentu unggul di bidang lain.
“Satu bidang dia unggul, bidang lain dia lemah, maka dia harus mau mengakui keunggulan orang lain,” papar Dede.
Dede mengambil contoh, mahasiswa yang unggul pada satu mata kuliah, dan lemah pada mata kuliah lain, maka dia harus berani mengakui keunggulan mahasiswa lain sambil terus fokus di bidangnya.
“Maka di sini akan muncul fastabiqul khoirot, berlomba-lomba dalam kebaikan,” terang Dede di hadapan para jamaah yang terdiri dari para Wakil Rektor, para Dekan Fakultas, para dosen dan pegawai, serta ratusan mahasiswa UIN Jakarta.
Dede melanjutkan, termasuk indikasi kematangan dan kedewasaan emosi adalah memiliki jiwa humoris (sense of humor) dan mudah tersenyum.
“Latih untuk perbanyak senyum dengan 400 kali tersenyum dalam sehari dan orang yang jarang tersenyum itu cepat tua,” canda Dede.
Terkait puasa Ramadhan, Dede mengajak para jamaah untuk belajar pada alam. “Buah-buahan jika matang di musim hujan rasanya tidak manis, bahkan sering kali busuk. Beda dengan buah yang matang saat musim panas, umumnya rasanya manis,” terang Dede yang mengaku berasal dari keluarga petani.
Jika puasa Ramadhan dijalankan dengan benar, sambungnya, akan mendorong proses pematangan dan pendewasaan emosi orang yang berpuasa. Itulah yang disebut takwa.
Takwa menurutnya tidak hanya sebatas ritual (ibadah mahdhoh), tapi harus berpengaruh kepada urusan sosial dan peningkatan diri dengan terus melakukan latihan-latihan peningkatan kualitas.
“Saya tidak ingin intelektualitas tinggi namun rendah secara emosional. Dengan puasa Ramadhan, ditambah melakukan qiyam al-lail (bangun malam) sambil tafakkur(ihtisab/introspeksi), maka kedua-duanya (intelektual dan emosional) akan menjadi sama-sama hebat,” kata Dede sambil mengutip hadis Nabi SAW “man shooma nahaaruhu wa qooma layaaluhu ghufiro” (siapa yang puasa siangnya dan mendirikan solat di malam harinya, maka diampuni dosa-dosanya).
“Jadi pengertian takwa adalah bagaimana kita semakin hebat kendalikan emosi kita dengan lima indikator kematangan emosi tersebut,” tutup Dede.
Dalam Surat Edaran Rektor disebutkan, Ramadhan in Campus ini diisi dengan kegiatan shalat Zhuhur berjamaah, Kultum, dan Tadarus/Kajian al-Qur’an, mulai 18 Juni sampai 9 Juli 2015 dari Senin-Kamis.
Tercatat dalam jadwal, yang berkesempatan menyampaikan materi kultum selain Rektor adalah para dekan dan wakil dekan fakultas, yaitu Dr Muhbib A Wahab MA (22/6), Prof Dr Sukron Kamil MAg (23/6), Dr Bustamin SE MM (24/6), Dr Yayan Sofyan SH MAg (25/6), Dr Arief Subhan MA (29/6), Dr Hamka Hasan Lc MA (30/6), Prof Dr Abdul Mujib MAg (1/7), Dr Desmadi Saharuddin Lc MA (2/7), Dr Agus Salim SAg MSi (6/7), Dr Arif Sumantri SKM MKes (7/7), Prof Dr HM Bambang Pranowo (8/7), dan Prof Dr Didin Saepudin MA (9/7). (mf)
Sumber : uinjkt.ac.id
              berita-uin online

FIDKOM

FIDKOM

Blogger templates

Blogroll